
| Tanggal | Pukul | Tempat | Kejadian |
| 15-Jun-08 | 10:00 | Rumah | Tiba-tiba saja Ibu merasakan mulutnya terkunci dan agak sesak nafas. |
| 10:04 | UGD – Rumah Sakit | Ibu Masuk UGD, sementara saya dan Ayah mengurusi administrasi kesehatan Ibu. | |
| 12:00 | Ruang Rawat Inap – Rumah Sakit | Alhamdulillah Ibu sudah diperbolehkan keluar ruang UGD dan dirawat di ruang rawat inap. | |
| 13:12 | Ruang Rawat Inap – Rumah Sakit | Ibu menjalani pemeriksaan gula darah dengan hasil 500 mg/dl, dan tekanan darah 200 mmHg. sangat jauh dari tekanan normal. Kemudian Ibu pun langsung diberikan tindakan medis secara oral melalui mulut. Ia diberikan tablet penurun gula darah yang diletakkan dibawah lidahnya. | |
| 17:12 | Ruang Rawat Inap – Rumah Sakit | Alhamdulillah, tekanan gula darah Ibu turun dan mendekati normal dan keadaannya pun berangsur-angsur membaik. | |
| 21:15 | Ruang Rawat Inap – Rumah Sakit | Saya, adik dan juga kakak bersenda gurau dengan Ibu. Sangat hangat sekali saya rasakan suasana kala itu. | |
| 16-Jun-08 | 8:04 | Ruang Rawat Inap – Rumah Sakit | Pagi itu, tiba-tiba saja Ibu mulai sulit berkata-kata. Kata-kata terakhir yang saya bisa dengar adalah “Ibu ga apa-apa.” Itu pun tidak terdengar begitu jelas terdengar oleh saya. |
| 8:15 | Ruang Rawat Inap – Rumah Sakit | Adik saya menyuapi ibu untuk sarapan. Tapi tidak banyak makanan yang bisa masuk ke mulutnya. Karena ketika makan, batuknya terus mengganggunya tiada henti, sehingga ia cukup kesulitan menelan makanan ke dalam tenggorokannya. | |
| 10:04 | Ruang Rawat Inap – Rumah Sakit | Keadaan kamar saat itu sangat sesak, karena tetangga berdatangan menjenguk ibu. Tidak bnyak yg dapat dilakukan oleh ibu waktu itu. Ia hanya bisa meneteskan air mata dari kedua matanya sambil memandangi foto-foto contoh baju pernikahan yang akan dipakai untuk resepsi pernikahan kakak saya. Ya, rencananya dipenghujung tahun itu kakak saya akan menikah. | |
| 14:07 | Ruang Rawat Inap – Rumah Sakit | Siang itu saya lihat senyum Ibu sangat indah tersimpul di bibirnya. Namun tak lama setelah itu Ibu tidak sadarkan diri. | |
| 17:08 | Ruang Rawat Inap – Rumah Sakit | Tingkat kesadaran Ibu mulai menurun sehingga sulit untuk diajak komunikasi. | |
| 17-Jun-08 | 13:07 | Ruang Rawat Inap – Rumah Sakit | Kondisi semakin drop dan ibu harus segera dipindahkan ke ruang ICU dengan diiringi doa. Kala itu harapan dan tangis menyesakkan dada ini. |
| 14:00 | Ruang ICU – Rumah Sakit | Akhirnya ibu memasuki ruangan “angker” itu dan ditubuhnya bersemayam alat-alat yang sangat mengerikan dan saya tahu itu sangat menyakitkan buat ibu. | |
| 18-Jun-08 | 9:24 | Ruang ICU – Rumah Sakit | Saya terduduk sambil berdoa di depan ruangan “angker” itu. Belum ada diagnosa pasti tentang apa yang sebenarnya terjadi pada ibu. Dokter hanya mengatakan ibu terdiagnosis “stroke ringan”. Tapi apakah separah ini? |
| 20-Jun-08 | 10:54 | Ruang ICU – Rumah Sakit | Saya, Ayah, Kakak dan juga Adik masih terus menunggu dan menunggu ibu sadar dari komanya. Saya tidak tahu sampai kapan. Tapi yang pasti kami akan selalu berharap ibu bisa pulang besok. |
| 24-Jun-08 | 13:06 | Ruang ICU – Rumah Sakit | Seminggu berlalu. Ibu masih belum sadarkan diri. Harapan kami hampir punah. Tapi ada suatu keajaiban. Ibu mulai bisa membuka matanya walaupun hanya sedikit dan menggerakan jari tangannya. |
| 25-Jun-08 | 11:09 | Ruang ICU – Rumah Sakit | Diagnosa Dokter ibu mengalami stroke. Dan apabila Ibu sembuh. Ia tidak bisa hidup normal dan harus menggunakan kursi roda. “Astagfirullah!”Hal itu dikarenakan penyakit diabetes yang ibu derita sudah mengakibatkan mal-fungsi organ-organ tubuh yang lain termasuk otak.. Ini seperti mimpi buruk yang harus saya dan keluarga alami. |
| 27-Jun-08 | 18:05 | Ruang ICU – Rumah Sakit | Saat saya sedang mengaji di depan tubuh Ibu yang terbaring koma. Tubuh ibu memberikan respon. Ia meneteskan air mata ketika saya melantunkan ayat-ayat suci Al-Qur’an ditelinganya. Hal ini yg membuat saya mempunyai harapan kembali pasca diagnosa dokter kemarin. Harapan ibu untuk sembuh dan kembali ke tengah-tengah kami. |
| 30-Jun-08 | 17:09 | Ruang ICU – Rumah Sakit | Alhamdulillah, harapan itu semakin terang. Karena ibu sudah bisa diberi minum susu secara oral bukan melalui suntikan lagi. Dan gerakan jemari ibu semakin sering saya lihat |
| 3-Jul-08 | 13:40 | Ruang ICU – Rumah Sakit | Dokter yang merawatnya mengindikasikan bahwa Ibu membutuhkan darah dengan segera untuk ditransfusi. |
| 15:45 | Ruang ICU – Rumah Sakit | Saya dan paman akhirnya mencari darah ke bank darah pusat daerah Kramat Jakarta. Setelah sebelumnya saya tidak dapat mendapatkannya di PMI bekasi. | |
| 17:05 | Ruang ICU – Rumah Sakit | Sementara saya mencari darah untuk Ibu. Adik dan kakak perempuan saya masuk ke ruang ICU untuk melihat keadaan ibu. Masih teringat jelas saat itu mata ibu terbuka lebar dan meneteskan airmata. Adik membisikan kata-kata di telinga ibu, agar ia kuat, sabar dan yakin bahwa ia akan sembuh. Tetesan air mata ibu semakin mengalir dan pandangan matanya seperti melihat sesuatu | |
| 18:00 | Ruang ICU – Rumah Sakit | “Asyhaduallah illaha illahu, wa asyhaanna muhammadarrosullahu” kata itu dibisikkan kakak ke telinga Ibu. Setelah beberapa kali kata itu dibisikkan ke telinganya, tedengar bunyi yang sangat mengerikan.”Tiiiiiiiiiiiiiiiit…” Alat rekam jantung Ibu berbunyi nyaring. Innalillahi wa innailaihi roji’un. Adzan Maghrib terdengar, mengantar Ibu menghadap sang Illahi Robbi. Selamat jalan Ibu. Kami pasti akan merindukanmu. |
Itu adalah kejadian 3 tahun yang lalu. Kini telah banyak yang telah saya lalui tanpanya. Memang terasa sangat berbeda, tapi saya selalu berhusnudzan atas segala keputusan ALLAH.
Semoga Ibu mendapat tempat yang layak disisiNYA. Dan semoga saya, ayah, kakak dan adik bisa bersatu kembali dengan Ibu di surgaNYA. Amin.. Yaa robbal ‘alamiin.
- Deni Kurniawan