Selamat Lebaran

Alhamdulillah sampe juga umur ini ke lebaran lagi. Ketupat time, salaman time and THR time. Semua menarik aktifitas yang (kayanya) cuma ada saat lebaran. 

Lebaran yang ketiga kalinya bareng sama anakku Kindi. Udah besar dia sekarang. Udah bisa diajak komunikasi. Nyambung banget kalo diajak ngobrol. Anak yg bikin kangen anytime. Dan yang kelima kalinya bersama bubun_kindi (istri tercinta). Kalo yang satu ini bukan cuma nyambung diajak ngobrolnya, tapi juga selalu nemuin solusi dibalik masalah. Pemberi saran yang ulung. Mahir masak, dan juga pemberi kesejukan di dalam rumah. Pokonya the best advisor deh!
Selamat Idul Fitri 1437 H. Mohon maaf lahir dan bathin.


Merdeka bagi Mereka [Mer(d)eka]

*

Ini kisah Badrun, seorang anak jalanan yang setiap hari mengamen dari angkot satu ke angkot yang lainnya. Anak dari keluarga pemulung beranak lima.

Bapaknya Badrun bertugas mendorong gerobak, sedangkan Ibunya memungut sampah untuk dijual kepada pengepul. Setiap hari mereka beroperasi di seputaran ruas jalan raya Casablanca – Kampung Melayu. Pagi menuju Casablanca. Sorenya menyusur jalan menuju Kampung Melayu.

Penghasilan mereka tidak lebih dari dua belas ribu per harinya. Mungkin bisa lebih bila ada orang yang merasa kasihan, dan memberikan sebungkus nasi untuk mereka.

Ada Ita, Anis, Iwan dan juga Soleh di dalam gerobak. Mereka semua adik Badrun. Sesekali mereka berebut sebungkus nasi yang diberikan oleh orang yang kebetulan bertemu gerobak mereka.

Bagaimana dengan Badrun? Mengapa tidak ikut dengan rombongan keluarga gerobaknya?

Badrun dititipkan kepada Bang Isul di Senen. Bapaknya Badrun sengaja menitipkannya. Supaya Badrun bisa sekolah.

Bang Isul adalah orang yang menampung anak-anak tunawisma. Memang anak-anak tersebut dipekerjakan sebagai tukang ngamen atau tukang semir sepatu di sekitaran Pasar Senen dan Terminal Senen. Namun uang-uang yang terkumpul dari hasil mengamen dan menyemir tersebut diolah oleh Bang Isul untuk biaya sekolah anak-anak asuhnya.

Termasuk Badrun. Ada delapan anak lainnya yang sebagian waktunya belajar di Sekolah dan sebagian waktunya lagi dihabiskan untuk mengamen dan menyemir sepatu. Mereka bersekolah di SD Inpres 14 Pagi Senen. Saat pagi mereka berseragam sekolah. Siang harinya mereka bekerja keras untuk bisa bersekolah.

Badrun hanya ingin bersekolah. Sampai nantipun Ia hanya ingin bisa bersekolah.

 

**

Barce duduk memeluk lutut sambil menatap tembok kokoh. Namun pikirannya jauh menembus tembok tersebut, memutar kembali masa lalu.

Masih teringat jelas peristiwa memilukan 3 tahun yang lalu. Saat Hakim memvonis dirinya bersalah dan menerima hukuman 10 tahun mendekap di dalam penjara. Menebus segala kesalahannya.

Apa yang telah dilakukan Barce?

Mencuri ayam kampung tetangganya karena lapar! Barce memang lapar saat itu. Anaknya juga. Ia tak tega mendengar kedua anaknya menangis dan menjerit karena kelaparan. Istrinya pun telah meninggalkannya, karena tak kuat hidup miskin bersama Barce. Ia memutuskan untuk menikah lagi dengan orang lain.

Barce menyesal! Karena ulahnya itu, hingga kini Ia tak tahu nasib anak-anaknya. Ia juga sering merasa sakit di kepalanya, efek dari keroyokan membabi-buta warga kampung yang memergokinya sedang maling ayam.

Pasrah dan berjanji tidak akan mengulangi perbuatan buruknya lagi, adalah hal yang bisa dilakukan Barce.

Barce hanya ingin bisa keluar dari penjara, dan meminta maaf kepada anak-anaknya.

 

 

Cerpen: Narasi Hujan

narasi hujan

Pikiranku liar menerawang jauh menembus dari dalam ke luar kaca mobiku. Mengarah langsung ke langit. Menembus kerumunan awan hitam yang kadang menyala. Di luar kaca mobilku penuh dengan lukisan bintik-bintik air terlihat sangat menawan. Namun terkadang salah satu dari mereka meneteskan diri karena tak sanggup menahan beban bobot mereka sendiri dan jatuh ke pintu mobil. Akhirnya jatuh ke aspal jalanan ini untuk menyatu menjadi genangan.

Terperangkap dalam hujan dan kemacetan kota seperti ini memang menjadi hal yang tidak enak bagi sebagian orang. Buktinya, beberapa kali aku dengar orang membunyikan klakson abnormalnya dengan sangat keras. Entah menandakan hal ketidaksukaan pada pengemudi lain yang mengambil jalurnya, atau hanya sebagai tanda frustasi yang sudah sangat mendalam. Entahlah!

Namun, kini aku punya kesempatan untuk sedikit bermeditasi. Langit masih menjadi pusat perhatian utamaku. Muncul pertanyaan-pertanyaan mengapa langit bisa setinggi dan seluas itu. Padahal tak ada penyangga atau apapun yang menjadikannya tetap di tempatnya. Menggantung begitu saja. Malah sekarang aku diguyur air olehnya dengan begitu hebat. Sekali lagi, hebat!

Hujan masih terus turun dari langit. Padahal aku sudah berada dalam mobil hampir dua jam. Hujan sudah turun semenjak aku masih menjalani rapat dengan rekan kerjaku di kantor membahas target penjualan bulan depan. Namun hingga saat ini nampaknya belum ada tanda-tanda hujan ini akan segera berakhir.

Meditasiku berlanjut. Namun kini bukan lagi langit yang menjadi pusat perhatianku. Tiba-tiba saja wajah almarhumah Ibuku terlihat begitu jelas di kaca depan mobilku. Dengan hebatnya pikiranku membelah-belah masa lalu saat ibu masih hidup.

Saat kelulusan SMU ibu hadir ke sekolah untuk memelukku dan mengucapkan selamat atas kelulusanku. Air mataku menetes saat itu. Kubalas pelukannya dengan dekapan erat setelah kuucapkan terima kasih. Kebahagiaan terekam saat itu.

Namun, rekaman itu berganti dengan suasana yang menyesakkan dada saat pemakaman ibu. Ibu meninggal tujuh tahun lalu. Tapi wajahnya tak pernah bisa kulupakan. Kasih sayangnya pun juga begitu. Masih sangat jelas terekam bagaimana perjuangannya yang gigih melawan kanker hati selama kurang lebih 10 tahun.

Di hari terakhir perjumpaanku dengannya. Ia mengenakan seragam operasi berwarna hijau. Kuantarnya ia menuju ruang operasi. Baginya ruang tersebut adalah ruang perjuangan. Ruang siksaan. Gerbang antara kehidupan dan kematiannya. Kugenggam tangan kanannya. Menyemangatinya. Ayah berada di sebelah kiri. Menenangkan perasaannya. Aku dan Ayah menutupi perasaan gelisah dari Ibu.

Perawat memanggil Ayah untuk menemui dokter Hans di dalam ruang operasi, setelah hampir 3 jam kami menunggu di luar ruang operasi. Ayah menoleh kepadaku dengan wajah harap-harap cemas. Aku mengangguk lalu tersenyum mencoba menyuntikkan rasa tenang pada Ayah.

Ayah menemuiku dengan wajah pucat. Menceritakan kabar duka untukku dan hatiku. Mulai saat itu kami kehilangan Ibu untuk selama-lamanya.

“Allahuakbar… Allahuakbar…!” Kumandang Adzan Isya membuyarkan rekamanku.

Hujan telah berubah menjadi gerimis yang merubah sedikit tetesan-tetesan air yang ada di kaca mobilku. Sebagian menetes menuju aspal jalan. Menyatu membuat genangan. Bunyi riuh di atap mobil pun menjadi lebih terdengar syahdu seakan membentuk sebuah irama berpola. Udara dingin mulai memeluk diriku. Kumatikan AC mobilku untuk mengurangi pelukan udara dingin. Kuubah posisi duduk agar lebih nyaman.

– Deni Kurniawan (Bekasi, 1 Maret 2014)

 

Welcome! (Back)

comeback

Setelah lama tidak menulis, saya mencoba untuk berani menulis lagi. Membangun kembali kepercayaan diri lagi. Untuk bisa menghasilkan karya lagi berupa kata-kata juga tulisan.

Kalo ditanya kenapa sempet berhenti nulis, sebenernya sih satu alasan simple. Yaitu karena kesibukan yang kadang membuat saya membunuh (komitmen) diri.

Di blog saya ini (husnudZone), Alhamdulillah sudah lumayan banyak yang bisa saya tulis, bahkan sempet terpikir untuk membukukan blog ini. Hehe. Tapi karena satu dan lain hal akhirnya niat itu urung saya lakukan. Mungkin belum siap juga. Dan dilihat dari materinya juga masih belum begitu mumpuni untuk menuju kesana. Maklum masih menimba ilmu.

Sempet gak nyangka juga blog ini, sampai saat ini nyentuh angka pengnunjung lebih dari delapan ribu visit. Padahal niat awal membuat blog ini hanya sebagai aktualisasi diri dan tempat (penyimpanan) tulisan saya. Terima kasih yaa Bro & Sis yang udah berkunjung.

Nah, saat ini saya berharap bisa menimbulkan semangat baru dalam menulis. Dan tetap bisa istiqomah untuk menulis. Kaya quotes hebat yang satu ini:

“Winner never quit & Quitter never win”

Jelas banget! Bila kita ingin menjadi pemenang, janganlah berhenti. Bila kita berhenti jangan pernah berharap bisa menang dan menjadi pemenang.

Semoga aja, semangat baru ini bisa menjadi sarana bagi saya untuk bisa menggali potensi yang ada dan bisa terus berbagi.

Salam,

Deni Kurniawan

Selamat datang Cahaya Mataku..

Image

Alhamdulillah, Pada tanggal 25 November 2013
Telah lahir putra Saya (dan Istri tentunya).

Kami beri nama: ITSAR AL KINDI KURNIAWAN

ITSAR, yang berarti mendahulukan kepentingan orang lain. Dan AL KINDI, diambil dari nama seorang filsuf muslim yang juga mahir dibidang  metafisika, etika, logika dan psikologi, hingga ilmu pengobatan, farmakologi, matematika, astrologi dan optik, juga meliputi topik praktis seperti parfum, pedang, zoologi, kaca, meteorologi dan gempa bumi. Subnallah.

KURNIAWAN, diambil dari nama belakang saya. Selain agar nasabnya jelas, sebenernya ada misi narsisnya juga sih. Tapi saya harapkan dari nama belakang itu, kelak ia tumbuh menjadi anak yang mempunyai hubungan baik dengan keluarganya kelak.

Saat posting ini ditulis, Kindi (nama panggilannya) sudah berusia 3 bulan. Semoga terus sehat ya Nak. Semoga bisa jadi manusia cerdas yang mementingkan kepentingan orang banyak dan bisa menjadi kebanggaan keluarga. Amin.

Puisi: Fatal

Sapa hangat sore ini untuk hati yang beku.
Sebeku kristal bukan lagi es.

Aku hanya disini,
Sementara hayatku melanglang entah kemana.

Pandanganku berhenti,
Tepat berhenti pada secarik angan.
Menggelayut senja setelah hujan yang cukup deras.

Kubiarkan semuanya terjadi dengan semestinya
menggelora denyut dalam hati ini yang meraung dengan keras.

Aku ingin pergi dari sini!
Tinggalkan semua kebekuan dan kebuntuan.

Terbang kearah rumput lebih subur.

Tapi apa hendak dikata.
Nanahku kini menganga.
Menghantui setiap jengkal bagian tubuh.
Siap menerkam laksana harimau lapar menggila.

Kesalahan masa lalu yang fatal.
Mengoyak inti setiap keberanian.

Nyawa serta kehormatan dipertaruhkan.
Siapapun siap menang.

Kumohon pemenangnya adalah yang terbaik
Untukku dan menurutNya.

.

Deni Kurniawan

Ini Rumah Baruku

Hallo Sob!

Masih dengan semangat husnudZone tapi dengan rasa yang berbeda. Gimana ya rasanya??

Nah, gini inih Sob. Kali ini ijinkan saya mengenalkan “rumah” baru saya. Rumah yang lebih nyaman untuk menulis dan lebih indah ditatapan mata. Rumah baru yang saya maksud adalah blog husnudZone ini.

Ide awalnya mengapa Saya merubah blog ini, karena gak tahu kenapa saya merasa enggan untuk menulis dan berbagi di blog ini. Saya pikir apa karena tampilannya yang perlu sedikit dirubah ya? Batin saya seperti itu Sob.

Tapi, setelah saya pikir-pikir lagi. Gak ada salahnya kok untuk merubah tampilan blog ini. Dengan tujuan untuk mengambalikan lagi mood untuk mengisi dan menulis lagi di blog ini.

dengan sedikit waktu, akhirnya saya bisa menyelesaikan rumah baru ini. dan mengenalkan rumah baru ini kepada sobat reader. Jauh dari bagus sih. tapi lumayan berhasil saat ini untuk mengembalikan semangat menulis di blog ini.

Oke. semoga rumah baru saya ini bisa selalu menjaga semangat saya dalam menulis di dalam blog ini. Tentunya juga bisa selalu berbagi pengalaman-pengalaman yang saya alami.

.

Deni Kurniawan